Kalau kita membuka lembaran lontara Sinjai, kesannya yg tetap aktual adalah bahwa Sinjai itu didukung oleh 10 kerajaan besar. Tapi bila kita lebih teliti lagi, maka ada satu lagi kerajaan yang jarang disebut-sebut yakni Baringeng.Entah apa sebanya sehingga Baringeng jarang disebutkan dalam khazanah kerajaan di Sinjai, padahal dari sisi sejarah terbentuknya, sisi wilayah dan dewan adatnya justru setara dengan kerajaan lainnya di Sinjai dan Belanda telah mencatat dalam peta kuno bertahun 1693 dan Baringeng dicatat terletak anrara dua Sungai yakni sungai Baringeng dan sungai Sanjai (Skrg sungai Tui) . Bahkan oleh Belanda dalam pembentukan regent justru Baringeng lah yg pertama dibentuk dan dilantik oleh Belanda pada tahun 1860 yakni La Paseng Daeng Mallebbang Datu Tungkek na Baringeng. Jadi regent Oosterdistrichten pertama bukan La Ganing Arung Bulobulo seperti yg diyakini orang selama ini karena dia dilantik justru bersama sulewatang Baringeng yg telah berkuasa selama 3 tahun di Baringeng dan dilantik bersama dgn jabatan barunya sebagai sulewatang Bulobulo bersama La Ganing pada tgl 15-3-1863.Kerajaan yang selalu terlangkahi ini memang terbentuk agak belakangan dibanding dengan kerajaan lain yg ada di Sinjai krn ketiadaan To Manurung yg biasanya menjadi peletak dasar lahirnya sebuah kerajaan berdaulat. Selain itu, kehadiran kerajaan Baringeng juga adalah hasil peleburan dari kerajaan Panaikang. Para pangeran kerajaan lainpun tdk merasa turun derajatnya bila mempersunting gadis Baringeng demikian pula sebaliknya.
Menurut Matthes, seorang ahli bahasa dan sejarah Belanda yg mengunjungi Baringeng pada awal Oktober 1864 untuk penelitian bahasa dan sejarah mengatakan bahwa Baringeng pada awalnya berpusat di Panaikang yg didirikan oleh orang-orang Gowa.Penyebutan Panaikang sendiri berasal dari bahasa Makassar yg berarti naik pada sebuah tempat yg sedikit lebih tinggi ataupun jauh. Maksudnya bisa saja naik ke darat dari perahunya karena orang - orang Gowa tersebut datang dengan perahu atau menuju ke sebuah tempat yg jauh dari Gowa.
Setelah mereka berhasil membentuk kekuasaan di tempat baru tersebut , orang orang Gowa ini menamakan wilayah barunya dengan nama Kerajaan Panaikang. Tapi setelah mereka berhasil membentuk kekuasaan di Panaikang dengan penguasanya yg berdaulat penuh, mereka akhirnya meninggalkan Panaikang setelah terjadi perang di Buatana. Usai perang,, penguasa terakhir Panaikang mendatangi seorang bangsawan Bulobulo bernama Puatta LetoqE Arung Sanjai ( wilayahnya disisi kanan Salok Tuik sekarang termasuk Biringere dan Pacinongang sebelah Barat Dompili bukan Desa Sanjai skrg) . Oleh Puatta LetoqE bertanya kepada Karaeng Panaikang bahwa dengan siapa kamu ingin bergabung krn orang orang Gowa telah kembali semuanya. Dan setelah mereka berdiskusi dan tidak berhasil menemukan titik temu, diputuskanlah bahwa Panaikang dihapus dan dilebur ke Bulo-bulo. Alternatif yang lain adalah berdiri sendiri dengan nama dan penguasa baru, karena Karaeng Panaikang terakhir itu dianggap kurang peduli dengan kelangsungan kerajaannya mengingat orang orang Gowa telah kembali ke Gowa semuanya usai perang di Buatana dan tidak ada kejelasan berikutnya apakah mau melanjutkan kerajaan Panaikang ataukah bergabung dengan Bulobulo. Keputusan terakhir adalah dengan dibentuknya sebuah kerajaan baru bernama Baringeng atau Baringang. Makna Baringeng sendiri dalam bhs Makassar klasik adalah KECIL atau, RINGAN bahkan kata itu bisa bermakna RINGANG BAWA atau sebuah KEBOHONGAN akibat tdk konsistennya penguasa Panaikang menghadapi peralihan kekuasaan ini.Kata Baringeng sendiri berasal dari kata PARINGANG yang berarti kebohongan atau ringan bukan BARINGANG penanda anak tangga dlm bhs Makassar atau konjo spt yg selama ini penulis jg fahami atau ANAK TUKAK. ( catatan Matthes mengenai hasil kunjungannya ke Baringeng tahun 1864 dalam bhs Belanda ada pada penulis).
Pada awal terbentuknya, Kerajaan Baringeng terbagi dalam dua kekuasaan yakni Baringeng di Lauk dan Baringeng di Aja yg masing-masing diperintah oleh Arung walau akhirnya dilebur menjadi Akkarungeng Baringeng dengan satu penguasa induk dengan menurunkan status Baringeng di Lauk dan Baringeng di Aja yg bergelar Arung menjadi sebuah wilayah baru yg dinamakan Maroanging di Ahang dan Maroanging di Attang dengan penguasa berstatus Aru bukan lagi Arung seperti selama ini karena jabatan arung disematkan kepada Baringeng . Selanjutnya, setelah Baringeng berstatus kerajaan , maka dibagilah menjadi 10 wilayah adat sekaligus menjadi anggota dewan adat atau Adeq Seppulo dimana Maroanging tetap berkuasa dan berpemerintahan sendiri merangkap menjadi anggota dewan adat pendukung Baringeng dan bergelar Aru. Dewan adat inilah yg menerima Tuan Matthes saat mengunjungi Baringeng tahun 1864 yang terdiri dari:
1.Galla Ere lohe
2.Macoa Pattalassang (, Daeng Mattata)
3.Macoa Data
4.Aru Siping
5.Aru Maroanging di Ahang
6.Macoa Bangkong
7.Galla Bongki
8.Galla Buwakkang
9.Aru Maneteng
10.Aru Maroanging di Attang.
Dengan komposisi Adeq Seppulo ini, maka pada saat pembentukan regent Pertama usai Belanda menguasai Sinjai 25-11-1859, gelar penguasa Baringeng bukan lagi Arung atau Karaeng tapi justru menjadi Datu dan satu-satunya Datu yg pernah berkuasa di Baringeng dan satu-satunya Datu di Sinjai. Sosok Datu itu adalah La Paseng Daeng Mallebbang dengan gelar Datu Tungkek ri Baringeng
yg dilantik oleh Belanda pada tahun 1860. Dengan pelantikannya sebagai Datu ini sehingga muncul nyanyian rakyat di Sinjai berbunyi,,Raja, Lamatti, Tondong, Bulobulo, Terasa, Manimpahoi, Tellulimpoe, Mappajung Tanre Mabbaho Buluk, Datu Tungkek ri Baringeng,,
Penyebutan Datu Tungkek ini selain krn memang hanya dia Datu yg pertama sekaligus Datu yg terakhir krn pengganti La Paseng Daeng Mallebbang adalah Makkarasang Daeng Pahaha yg menikah dengan I Kurusia Daeng Tamenne bin La Haddade Daeng Situru bukan lagi bergelar Datu tapi hanya Sulewatang dan berkuasa sampai 15-3-1863.Dia digantikan lagi oleh Sorong Daeng Liangulung sbg sulewatang ke 2 pada 26-2-1863 karena Makkaraseng Daeng Pahaha dinaikkan statusnya sbg sulewatang Bulobulo. Sorong Daeng Liangulung berkuasa di Baringeng sampai 20-1-1864.Sulewatang Baringeng terakhir atau yg ke-3 dijabat oleh Baddade Daeng Pahangung pada 27-10-1864 sampai Baringeng dilebur ke Bulobulo Timur pada 1-2-1872. Sebelumnya itu, Makkaraseng Daeng Pahaha telah dilantik pula sebagai sulewatang Bulobulo pada 15-3-1863 saat La Ganing diangkat menjadi Arung Bulobulo 15-3-1863 atau dilantik bersamaan walau tetap merangkap sbg sulewatang Baringeng sampai Sorong Daeng Liangulung telah menjalankan tugasnya sbg sulewatang Baringeng krn telah dilantik sebelumnya walau tdk langsung menjalankan tugasnya demi menunggu posisi Makkarasang Daeng Pahaha di Bulobulo krn ditunjuk sbg pendamping La Ganing Arung Bulobulo sampai terbunuhnya oleh Massalinri dkk pada tgl 23-3-1871 di Tui dan dimakamkan di Tampung Ciduk. Dengan demikian maka sebenarnya Makkaraseng Daeng Pahaha itu dianggap pernah menjadi Arung Bulobulo walau tanpa pelantikan sebab saat La Ganing terbunuh oleh Massalinri dkk yang menjalankan kekuasaannya adalah sulewatangnya yg tdk lain adalah Makkaraseng Daeng Pahaha dari Baringeng tadi sampai dijadikan sbg kerajaan baru yakni Bulobulo Timur tanggal 1-2-1872.Makkaraseng sendiri mengendalikan kekuasaan sebagai sulewatang Bulobulo sampai 11-5-1872. sedangkan jabatan Sulewatang tetap dijabat oleh Makkarasang Daeng Pahaha walau sdh bukan lagi Bulobulo tp Bulobulo Timur. Selanjutnya dia menjabat Sulewatang di Bulobulo Timur dibawah Arung Bulo2 Timur pertama bernama Baju Daeng Sijerrak, dan jabatan Sulewatang dijalankannya sampai dia meninggal mendadak pada tahun 1894. Sedangkan jabatannya sebagai sulewatang di Bulobulo Timur dilanjutkan oleh Makkaluma Daeng Matutu di bawah Arung Bulobulo Timur yg baru bernama Baso Daeng Mallongi mulai 20-9-1878 sampai 21-2-1901.
Kalau kita menggali lontara yang ada di Sinjai, maka kita akan menemukan beberapa tokoh yg berpengaruh asal Baringeng antara lain :
1.LA GALOGO DAENG PABBELLEK atau lebih populer disebut Puang Bellek adalah orang Sinjai pertama yg memeluk islam atas perintah dari Arung Tondong bernama To Hokkek ke Tiro untuk mendalami agama islam bersama Petta Massabange dari Manimpahoi atas perintah dari Mattunruang Arung Manimpahoi ke- 3.Puang Bellek adalah anak dari I Yottong Daeng Marumpa Arung Tondong tetapi ibunya berasal dari Baringeng bernama Rasina binti Bunga Pute dan Malika Arung Baringeng.
2.HADDADE DAENG SITURU adalah anak dari Pajung Luwu yg menggantikan We Tenrileleang sekaligus digantikan oleh We Tenrileleang lagi atau Pajung Luwu ke-24 dan 26 juga sebagai Pajung Luwu. Bapak dari Haddade Daeng Situru itu bernama La Kaseng Tosibengngareng Matinroe ri Kaluku bodoe Pajung Luwu ke - 25. We Tenrileleang ini pernah menikah dengan La Masselomo Petta ponggawae atau sbg suami ketiga dari We Tenrileleang yg tdk lain adalah mantan suami I Tenrijai Daeng Niyatu Arung Bulobulo ke-18 yg bercerai secara resmi krn pernikahannya dengan Pajung Luwu tadi pada 29-5-1758 dan direstui oleh Raja Bone La Temmassonge. Urusan perceraiannya dimediasi oleh La Sumappa Daeng Manajai Arung Pao yg saat itu menjabat sbg sulewatang sekaligus Dulung Bulobulo dengan gelar jabatan Arung Pao. Sosok Haddade Daeng Situru menikah di Baringeng dengan Besse Bulobulo binti I Semmaila Daeng Mallengu Arung Bulobulo ke-21 dan melahirkan anak2nya I Saide Daeng Situju yg menikah dgn I Settiaba, anak kedua bernama I Mariati Daeng Mallana yang menikah dengan La Taming Daeng Palallo melahirkan anaknya bernama I Rasia yg menikah dengan Daeng Situju dan melahirkan anak bernama Benteng Daeng Patappu Aru Maroanging, Indo Rea yg menikah dengan Haji Ali Kali Bulobulo sedang yg bungsu adalah I Muhakka Daeng Masiga yg menikah dengan I Tangkasa Daeng Mukasya keluarga I Massalinri sang pemberani itu. , sedangkan anak bungsu dari Haddade Daeng Situru bernama I Kurusia Daeng Tamenne yg menikah dengan sulewatang Baringeng dan Bulobulo bernama Makkaraseng Daeng Pahaha. Dan I Saide Daeng Situjulah yg melahirkan seorang tokoh Baringeng lain bernama La Bolong Daeng Maketti Temmabajue Matinroe ri Cappak Lembang ( nama yg sama dengan tokoh dan Arung Manimpahoi ke-13 serta pemberani Pulau Sembilan yg mengungsi ke Sulawesi Tenggara tahun 1860).
3.LA TONGENG DAENG TALLESANG adalah sosok yang melahirkan I Cudai Tenrisompa yg pernikahannya dengan Arung Tondong Soda Daeng Sitonra sangat fenomenal yg masih menyimpan pertanyaan bagi orang Tondong sampai kini bagaimana pernikahan itu bisa terjadi krn proses perkawinannya yg tdk biasa dan unik yang akhirnya melahirkan tokoh Sinjai bernama Buareng Daeng Parani.
4.BUA TASA DAENG MACENNING adalah bangsawan Baringeng yg menikah dengan Arung Tondong terkenal krn selain menikahi gadis Baringeng , dia juga menikahi cucu raja Gowa bernama Karaeng Imang binti I Callak Karaeng Borong cucu Batara Gowa. Bua Tasak ini melahirkan Petta Welong, Patajai Petta Sikki, Petta Luna dan Petta Lenong. Dan yang menarik adalah bahwa anak dari Bua Tasak Daeng Macening dari Baringeng ini atau Patajai Petta Sikki menjadi anak Pattola Seddi (putra Mahkota) dari Puatta Dado Daeng Pagiling yg dilantik sebagai Arung Tondong pada 5-1-1906. Patajai Petta Sikki ini menjadi Kandidat calon arung Tondong saat pemilihan arung Tondong 12-9- 1930 bersama tiga putra Puatta Tabollo Daeng Mappuji spt Karaeng Soi dan Karaeng Genda dari istrinya bernama Sinru Karaeng Abeng dan Karaeng Massehali dari istri puang Tudang Daeng Mabbere dan yg terpilih adalah Karaeng Genda. Bua tasa dari segi silsilah berasal dari Ammessing dan Raja cuma dekat ke Baringeng
5.PUANG INDO CICUK DAENG RAJA istri dari Makkuraga Daeng Pagau Arung Lamatti ke-36 yg dilantik pada 27-6-1892.Puang Indo Cicuk bangsawan Baringeng adalah anak dari Arung Baringeng Sulemana Daeng Matana yg menikahi Tombong Daeng Matekne. Pernikahan Makkuraga dari Lamatti dengan Cicu Daeng Raja dari Baringeng melahirkan Kahibbi, Malolo Daeng Makerra, Asape Daeng Pagau, Makkasolang, Nyoma, Libbo, Cenning dan Kesse. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa mantan Bupati Sinjai Petta Rudi termasuk bupati sekarang Pak Andi Seto, bukan saja berdarah Aruhu spt yg diketahui selama ini tp juga berdarah Baringeng Sinjai Timur dan Batusantung Erasa Tellulimpoe lewat Puang Indo Cicu dan Puang Indo Kacik. PUatta Makkuraga ini melahirkan juga Asafe Daeng Pagau yg diangkat jadi Arung Kahu.
Untuk mempererat tali kekeluargaan antara Baringeng dengan Aruhu, maka anak Indo Cicu binti Arung Baringeng yakni Malolo Daeng Makera dinikahkan dengan LA Hemma Daeng Pajari bin Guliga Daeng Pahinru Arung Aruhu. Satu lagi istri Makkuraga adalah Indo Kaci dari Batusantung Erasa Tellulimpoe yg melahirkan. Pakki Daeng Masiga, La Cama, La Muddu, La Baco dan La Jimpe. Seorang anak dari Indo Kacik ini adalah ahli Fikhi yg pernah belajar islam di Mekkah bernama Pakki Daeng Masiga yg juga diangkat menjadi Arung Lamatti ke-37 dan dilantik pada 30-11-1897. PAKKIK Daeng Masiga dgn ibu dari Batusantung ini juga melahirkan Arung Lamatti lain yakni Nurdin Daeng Magassing Arung Lamatti ke-38 yg kembali melahirkan arung Lamatti ke-40 yakni Puatta Indar Daeng Paola yg pernah merangkap jabatan KPN sekaligus sbg Arung Lamatti di awal kemerdekaan RI. Sedangkan turunan Indok Cicuk dari Baringeng kembali melahirkan Arung Lamatti terakhir atau ke-41 atas nama Puatta Andi Ahmad Kahu.
Kerajaan Baringeng sebagai sebuah kerajaan yg setara dengan kerajaan lain disekitarnya tetap dianggap berdaulat setelah kita terjajah oleh Belanda dengan mendapat posisi yg setara dengan kerajaan lainnya yg dibuktikan dengan dijadikannya juga Baringeng sebagai sasaran sensus tahun 1862 saat Afdeling Sanjai atau Oosterdistrichten dijabat oleh JA Bakkers . Saat itu, diketahui bahwa Baringeng berpenduduk 2766 orang dengan rumah sebanyak 296 buah. Jumlah kampung yg menjadi pendukungnya sebanyak 45 buah dengan pemimpin kampung yg terdiri dari:
1.Arung Baringeng di Lau Puang Daeng Manguluang yg juga membawahi kampung Masala, Baholiang, Maccini, Padang2,Campa dan Bunginge.
2.Gella Erelohe Puang Lapundo di Hassike
3.Gellak Bongki Puang Doja di Lembang
4.Gella Buakkang Puang Wak Donda di Jambu
5.Anak Karaeng Kadaha Puang Donda di Pattalassang termasuk Manumbu, Tempa, Pajalele, Bontosuli, Cilallang, Bongki dan Batulappa.
6.Anakkarung Manete Puang Salampe di Mangkola dan Tanete
7.Macoa Bangko Puang Baco di Bangko
8.Anakkarung Calangkatudang Puang Collek di Pao Garossak
9.Macoa Kalli Puang Mamancang di Kalli
10.Macoa Pangiri Puang Mallatte di Pangiri
11.Macoa Bongki2 Puang Daeng Marola di Bongki2
12.Arung Baringeng ri Aja Puang Paseng Daeng Mallebbang di Maconggi termasuk Data, Bontoloha, Timpalajak, Kantisang, Buhungtoa, Kotena, Mattoanging, Camba, Ponde, Borong utti dan Lombo
13.Gella Siping Puang Langkaco di Baccara.
14.Aru Kaloling Puang Mukka di Kaloling
15.Aru Maroanging Puang Ruppa di Pajompongang termasuk Lempong, Batukinrang, Maroanging dan Pao.
Selanjutnya, setelah terbentuknya kerajaan baru sebagai dampak pembunuhan La Ganing arung Bulobulo maka Bulobulo dipecah menjadi dua kerajaan yakni Bulobulo Barat berpusat di Bikeru dan Bulobulo Timur berpusat di Sanjai. Dengan lahirnya Bulobulo Timur, Baringeng dihapus dan dilebur ke Bulo2 Timur pada 1-8- 1872 dengan menyederhanakan kampung pendukungnya yg 45 kampung menjadi 13 buah kampung saja yg terdiri dari 11 kampung bergelar Aru walau masyarakat tetap menyapa Arung serta 2 kampung yg bergelar Kapala seperti berikut :
1.Aru Biringere
2.Aru Bontopale
3.Aru Rombo
4.Aru Kaloling
5.Kapala Tongke-Tongke
6.Aru Maroanging
7.Aru Buakkang
8.Kapala Pattalassang
9.Aru Biroro
10.Aru Sanjai
11.Aru Bua
12.Aru Patongko
13.Aru Mannanti.
Saya rasa cukup sekian saja yah dan lengkapnya tunggu terbitnya bukuku berjudul HANUA SINJAI. MOGA ada putra Baringeng yg melengkapi. Kutunggu yah. Mari perkuat sejarah kita
Sumber Data.
-. Catatan perjalanan Matthes di Sinjai dan Bulukumba milik nanda Arham Anwar di Makassar
- Catatan silsilah Tondong milik nanda Andi Sudhas
-Catatan silsilah HADDADE daeng Situru milik Petta Ambo. M di Bogor.
-Catatan Name Register milik Andi Taufiq Alamsyah di Selayar.
-Catatan silsilah La Masselomo Petta Ponggawae milik Petta Feand di Makassar
-Catatan tentang La Kaseng milik Dr. SAPRI PAMULU PHD di Jakarta
-Catatan tentang We Tenrileleang oleh Opu Andi Oddang Tosessungriu di Parepare dan Palopo
-Catatan regent Oostdistrichten Sinjai milik penulis
-Lontara Bulobulo milik Almarhum Andi Syamsuddin Petta Mammak.
-Lontara dan silsilah Lamatti milik Ahmad Suhaemi Petta Asok di Balangnipa
-, dll data milik. Penulis
28 Sep 2021 20.30.35
Sumber : Drs. Muhannis, MM

No comments:
Post a Comment